Jember, 4 Desember 2025 – Sahabat Difabel Universitas Jember sukses menyelenggarakan program kerja tahunan yakni Seminar Hari Disabilitas Internasional dengan menyusung tema “Strengthenuing the Leadership of People with Disabilities for an Inclusive and Sustainable Future” yang dihadiri oleh Pusat Layanan Konseling dan Difabel (PLKD), Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (LPMPP) Universitas Jember, mahasiswa difabel Universitas Jember sebagai tamu undangan, dan mahasiswa umum Universitas Jember pada Kamis, 4 Desember 2025 di Lantai 5 Gedung R. Soedjarwo Universitas Jember.

Melalui kegiatan ini, PLKD Universitas Jember mendorong terciptanya budaya akademik yang menghargai keberagaman, mendukung aksesibilitas, serta memastikan bahwa sivitas akademika difabel memperoleh kesempatan yang adil untuk mengembangkan potensi, aspirasi, dan kompetensi kepemimpinan mereka. Seminar ini dirancang sebagai bentuk kepedulian dan penghargaan terhadap keberadaan serta kontribusi teman-teman difabel di lingkungan kampus, selain itu kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesetaraan hak bagi mahasiswa difabel, dan dapat membangun kolaborasi antar mahasiswa difabel dan non-difabel untuk menciptakan lingkungan belajar yang saling mendukung dan menghargai perbedaan.
Kegiatan dibuka dengan laporan ketua panitia dari saudara Elen Bethania P, selaku ketua dari Sahabat Difabel 2025. Saudara menyampaikan bahwa tema ini menegaskan bahwa penguatan peran dan suara teman-teman difabel menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa setiap kebijakan, program, dan lingkungan sosial benar-benar mencerminkan kebutuhan dan aspirasi semua kelompok masyarakat. Selanjutnya, Ns. Fitrio Deviantony, S.Kep., M.Kep. selaku anggota pusat layanan konseling dan difabel LPMPP melaporkan bahwa kegiatan seminar ini merupakan rangkaian program tahunan yang bertujuan meningkatkan pemahaman tentang hak-hak penyandang disabilitas, sekaligus memperkuat kapasitas dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa dalam memberikan layanan yang responsif terhadap kebutuhan khusus. Dalam laporannya, beliau menekankan bahwa inklusi bukan hanya penyediaan fasilitas fisik, tetapi juga perubahan paradigma menuju penerimaan, empati, dan pemberdayaan.

Acara resmi dibuka oleh Prof. Dr. Iis Nur Asyiah, S.P., M.P. selaku sekertaris bidang program dan pengembangan LPMPP, yang dalam sambutannya menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk memastikan bahwa aksesibilitas dan kesetaraan menjadi bagian integral dalam setiap kebijakan pembelajaran. Beliau juga mendorong agar seluruh sivitas akademika mampu berkolaborasi membangun ekosistem pendidikan yang lebih inklusif dan berkeadilan.

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi pemaparan materi dan diskusi dari narasumber Ibu Luluk Ariyantiny selaku Direktur Pelopor Peduli Disabilitas Situbondo yang dikenal atas dedikasi serta kontribusinya dalam pemberdayaan komunitas difabel. Melalui pemaparan dari narasumber, beliau menekankan bahwasanya mayoritas relawan dan tenaga kerja peduli disabilitas itu berasal dari generasi muda terutama para mahasiswa. Untuk mewujudkan lingkungan perguruan tinggi yang inklusif perlu adanya kepekaan/empati terhadap teman-teman difabel dengan cara memberikan ruang untuk berkarya tanpa ada pandangan iba dan kerjasama kuat antar keluarga/lingkungan/masyarakat/lembaga untuk merealisasikan kehidupan yang ramah akan perbedaan. Namun kenyataanya, beberapa teman-teman difabel masih merasa malu untuk mengakui bahwasanya mereka termasuk difabel baik secara mental ataupun fisik akibat masih maraknya kasus pembullyan yang dilakukan oleh beberapa oknum tidak bertanggungjawab baik secara lisan maupun fisik.
Seminar turut diselingi dengan sesi ice-breaking berupa games yang melibatkan secara langsung relawan dari mahasiswa umum untuk mencoba menjadi teman-teman difabel beberapa menit dengan cara 5 orang ditutup matanya dengan masker dan 5 orang yang tangannya diikat, kemudian 10 orang relawan diarahkan untuk kembali ke tempat duduknya dengan kondisi keterbatasan indera penglihatan dan pergerakan tangan di lokasi yang mobilitas ruangannya tidak rata dan terdapat anak tangga. Games ini dilakukan untuk melihat seberapa besar empati yang dimiliki mahasiswa umum kepada mahasiswa difabel terutama dalam mobilisasi di lingkungan perguruan tinggi. Selain itu, melalui games ini narasumber juga menekankan bahwasanya terdapat etika penanganan yang perlu diperhatikan ketika kita sebagai mahasiswa umum ingin membantu teman-teman mahasiswa difabel, hal ini dilakukan untuk menjaga kenyamanan privasi dan rasa aman bagi teman-teman difabel.

Pada bagian akhir, acara dilanjutkan dengan sesi diskusi terbuka dan tanya jawab, yang memberikan ruang bagi mahasiswa, tenaga kependidikan, serta peserta lainnya untuk menyampaikan pandangan, pertanyaan, maupun rekomendasi terkait isu-isu dalam pengembangan teman-teman penyandang disabilitas. Melalui ruang dialog ini, PLKD Universitas Jember berharap dapat menghimpun aspirasi dan memperkuat sinergi antara seluruh pemangku kepentingan guna mewujudkan ekosistem kampus inklusif dan responsif bagi mahasiswa/masyarakat difabel (PLKD).
